“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)”.
[TQS.An-Najm : 39-42]
Detik masa berlalu kian menjangkau batas-batas akhir sebuah siklus kehidupan. Hari kemarin telah berlalu, dan keberlaluannya tidak bisa diulang kembali, saat ini adalah milik kita yang harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya karena dihari esok, belum tentu waktu akan kembali berpihak kepada kita.
Tak terasa perjalanan pembelajaran yang kita jalani telah sampai pada penghujung semester. Sudah menjadi tradisi diakhir semester dilaksanakan UAS untuk mengevaluasi hasil belajar kita selama satu semester. Sebagian dari mahasiswa sudah mempersiapkan UAS dengan sebaik-baiknya, namun juga tidak sedikit dari mahasiswa yang merasa tidak siap ketika menghadapi UAS. Dalam mempersiapkan UAS, bukan hanya ilmu yang harus disiapkan, persiapan mental dan kesehatan pun harus dipersiapkan, selain itu perlengkapan UAS seperti alat tulis sampai pada baju dan sepatu serta kaus kaki yang akan digunakan ketika UAS pun harus dipersiapkan. Karena jika hal-hal tersebut tidak kita persiapkan dengan baik, tidak mustahil UAS kita terganggu.
UAS yang kita hadapi bukan hanya merupakan ujian kompetensi terhadap keilmuan yang kita pelajari, namun juga sebagai ujian kejujuran dan akhlaq. Banyak dari peserta ujian yang mereka lulus dari ujian kompetensi, namun tidak lulus dalam ujian kejujuran dan akhlaq. Budaya mencontek dan memberi contekan masih subur dikalangan mahasiswa. Kurangnya persiapan dalam menghadapi UAS merupakan penyebab nomor wahid seseorang melakukan kecurangan (mencontek), selain itu ketidakpercayaan diri juga sering kali mendorong seseorang untuk mencontek. Praktik mencontek yang dilakukan mahasiswa ini merupakan salah satu indikasi degradasi dan dekadensi akhlaq, padahal mahasiswa adalah iron stock pemimpin masa depan. Sangat miris bukan, jika calon-calon pemimpin bangsa sudah terbiasa melakukan kecurangan ?
Islam adalah agama yang sangat mendahulukan akhlaq dalam setiap hal. Seperti halnya dalam pembelajaran ilmu, Islam sangat menekankan akan akhlaq. Sebagian dari akhlaqul karimah adalah kejujuran. Seseorang yang berharap mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat akan menemui kekecewaan jika kecurangan selalu dilakukan dalam proses pembelajaran. Imam Syafi`i r.a berkata,“Aku mengadukan perihal keburukan hafalanku kepada guruku, Imam Waki’ bin Jarrah. Guruku lalu berwasiat agar aku menjauhi maksiat dan dosa. Guruku juga berkata, ‘Muridku, ketahuilah bahwa ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang suka berbuat maksiat.”
Ibn Al-Qayyim r.a menulis bahwa, “Sesungguhnya ilmu adalah sinar yang diletakkan oleh Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan sinar tersebut”.
Oleh karena itu, kejujuran adalah hal yang mutlak dilaksanakan oleh setiap orang yang menuntut ilmu.
Kejujuran memang berat, dan terkadang kita dibuat tidak berdaya dan serba salah dengan kejujuran itu sendiri. Antara ya dan tidak, antara suka dan benci, antara menerima dan menolak, antara mengakui dan menutupi, sulit memang untuk bisa mengatakan “tidak” tanpa harus menyakiti kesucian hati. Namun seberat apapun itu, kita harus yakin bahwa setiap kejujuran akan membuahkan hal yang baik, bahwa kita hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita usahakan. Nilai 100 yang kita dapatkan tanpa mencontek adalah jauh lebih baik dari pada nilai 50 yang kita dapatkan dengan mencontek.
Semoga kita semua mampu menerapkan nilai-nilai kejujuran dalam setiap hal yang kita jalani. Kita jadikan UAS yang akan kita hadapi ini sebagai suatu sarana untuk memperbaiki akhlaq kita semua.
Semoga Allah Jalla wa ‘Azza senantiasa memberikan kemudahan kepada kita dalam setiap menghadapi Ujian yang Dia berikan.
Selamat Menempuh Ujian Akhir Semester. I hope Allah Blesses You.amin.
PPNI Kobong 7 Sunan Kalijaga
30 Desember 22:55 WIB
[TQS.An-Najm : 39-42]
Detik masa berlalu kian menjangkau batas-batas akhir sebuah siklus kehidupan. Hari kemarin telah berlalu, dan keberlaluannya tidak bisa diulang kembali, saat ini adalah milik kita yang harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya karena dihari esok, belum tentu waktu akan kembali berpihak kepada kita.
Tak terasa perjalanan pembelajaran yang kita jalani telah sampai pada penghujung semester. Sudah menjadi tradisi diakhir semester dilaksanakan UAS untuk mengevaluasi hasil belajar kita selama satu semester. Sebagian dari mahasiswa sudah mempersiapkan UAS dengan sebaik-baiknya, namun juga tidak sedikit dari mahasiswa yang merasa tidak siap ketika menghadapi UAS. Dalam mempersiapkan UAS, bukan hanya ilmu yang harus disiapkan, persiapan mental dan kesehatan pun harus dipersiapkan, selain itu perlengkapan UAS seperti alat tulis sampai pada baju dan sepatu serta kaus kaki yang akan digunakan ketika UAS pun harus dipersiapkan. Karena jika hal-hal tersebut tidak kita persiapkan dengan baik, tidak mustahil UAS kita terganggu.
UAS yang kita hadapi bukan hanya merupakan ujian kompetensi terhadap keilmuan yang kita pelajari, namun juga sebagai ujian kejujuran dan akhlaq. Banyak dari peserta ujian yang mereka lulus dari ujian kompetensi, namun tidak lulus dalam ujian kejujuran dan akhlaq. Budaya mencontek dan memberi contekan masih subur dikalangan mahasiswa. Kurangnya persiapan dalam menghadapi UAS merupakan penyebab nomor wahid seseorang melakukan kecurangan (mencontek), selain itu ketidakpercayaan diri juga sering kali mendorong seseorang untuk mencontek. Praktik mencontek yang dilakukan mahasiswa ini merupakan salah satu indikasi degradasi dan dekadensi akhlaq, padahal mahasiswa adalah iron stock pemimpin masa depan. Sangat miris bukan, jika calon-calon pemimpin bangsa sudah terbiasa melakukan kecurangan ?
Islam adalah agama yang sangat mendahulukan akhlaq dalam setiap hal. Seperti halnya dalam pembelajaran ilmu, Islam sangat menekankan akan akhlaq. Sebagian dari akhlaqul karimah adalah kejujuran. Seseorang yang berharap mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat akan menemui kekecewaan jika kecurangan selalu dilakukan dalam proses pembelajaran. Imam Syafi`i r.a berkata,“Aku mengadukan perihal keburukan hafalanku kepada guruku, Imam Waki’ bin Jarrah. Guruku lalu berwasiat agar aku menjauhi maksiat dan dosa. Guruku juga berkata, ‘Muridku, ketahuilah bahwa ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang suka berbuat maksiat.”
Ibn Al-Qayyim r.a menulis bahwa, “Sesungguhnya ilmu adalah sinar yang diletakkan oleh Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan sinar tersebut”.
Oleh karena itu, kejujuran adalah hal yang mutlak dilaksanakan oleh setiap orang yang menuntut ilmu.
Kejujuran memang berat, dan terkadang kita dibuat tidak berdaya dan serba salah dengan kejujuran itu sendiri. Antara ya dan tidak, antara suka dan benci, antara menerima dan menolak, antara mengakui dan menutupi, sulit memang untuk bisa mengatakan “tidak” tanpa harus menyakiti kesucian hati. Namun seberat apapun itu, kita harus yakin bahwa setiap kejujuran akan membuahkan hal yang baik, bahwa kita hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita usahakan. Nilai 100 yang kita dapatkan tanpa mencontek adalah jauh lebih baik dari pada nilai 50 yang kita dapatkan dengan mencontek.
Semoga kita semua mampu menerapkan nilai-nilai kejujuran dalam setiap hal yang kita jalani. Kita jadikan UAS yang akan kita hadapi ini sebagai suatu sarana untuk memperbaiki akhlaq kita semua.
Semoga Allah Jalla wa ‘Azza senantiasa memberikan kemudahan kepada kita dalam setiap menghadapi Ujian yang Dia berikan.
Selamat Menempuh Ujian Akhir Semester. I hope Allah Blesses You.amin.
PPNI Kobong 7 Sunan Kalijaga
30 Desember 22:55 WIB

Posting Komentar