"Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia, 'hendaklah kamu menjadi penyembahku, bukan penyembah Allah'. Akan tetapi(dia berkata),'hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.".(Al-Imran : 79)Setiap manusia tak perduli siapun itu, baik itu laki-laki, perempuan, kaya, miskin, berkulit putih atau hitam, berambut lurus atau keriting semuanya mengharapkan kehidupan yang bahagia, seperti halnya yang dikatakan oleh orang bijak ”Hidup bahagia,mati masuk syurga”. Hampir semua hal yang dilakukan oleh manusia bermuara pada satu tujuan, yaitu kebahagiaan. Namun tak jarang manusia yang mereka mengupayakan kebahagiaan sedang yang ia dapatkan malah justru kebinasaan, dan diantara sebab dari hal tersebut adalah karena kurangnya ilmu dalam pencapaian kebahagiaan yang ia cari. Ilmulah yang akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Rasullah SAW bersabda dalam sebuah hadits “Barang siapa yang ingin bahagia didunia maka hendaklah dengan ilmu. Barang siapa yang ingin bahagia diakhirat maka hendaklah dengan ilmu. Dan barang siapa yang ingin bahagia di dunia dan akhirat maka hendaklah dengan ilmu.”. Maka harus kita pahami, bahwa kunci dari semua kebahagiaan yang dituntut oleh manusia adalah ilmu, baik itu kebahagiaan yang hakiki maupun kebahagiaan yang semu.
Setiap Manusia Wajib Menuntut Ilmu
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa akan sangat mustahil sebuah pencapaian kebahagiaan dengan tanpa menggunakan ilmu. Katakanlah saja sebagai misal seorang yang ingin membuat kue, sedang dia tidak mengetahui ilmu membuatnya, maka bisa jadi yang ia akan hasilkan bukanlah kue yang enak, melaikan kue yang tidak enak bahkan tidak dapat dimakan. Begitu pula dengan kehidupan kita yang singkat ini, tanpa ilmu yang cukup, kehidupan kita tidaklah akan ada artinya. Maka Rasullah SAW memerintahkan umat muslim untuk senantiasa menuntut ilmu sebagaimana yang telah disabdakan oleh beliau dalam sebuah hadits "Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat" (HR. Bukhori). Sementara di baratpun kita kenal sebuah ungkapan polpuler yaitu "Long life education", hal ini menekankan bahwa ilmu adalah hal mutlak yang harus diupayakan setiap manusia tanpa mengenal batasan usia, karena kebahagiaan dibutuhkan oleh manusia sepanjang hidupnya bahkan hingga setelah ia mati.
Ilmu dalam kehidupan manusia ibarat lentera di tengah malam yang gelap gulita, dialah yang akan memberikan cahaya sehingga kita mampu melihat jalan yang akan kita tuju. Ilmu juga ibarat oase ditengah padang pasir bagi seorang yang kehausan, dia yang akan menyejukkan dan memberikan ketenanangan.
Tarbiyah, Jalan Menuntut Ilmu
Ilmu yang diusahakan oleh manusia sering kali tidak sesuai dengan hakikat tujuan yang sebenarnya, yaitu kunci menuju kebahagiaan. Banyak orang yang tersesat karena ilmunya, ada juga yang sampai gila karena keilmuannya. Hal ini dikarenakan kesalahan dalam menuntut ilmu, sehingga Islam mengajarkan sebuah pembelajaran yang sangat baik untuk menuntut ilmu agar ilmu yang diperoleh dapat mencapai tujuannya. Tarbiyah adalah proses pembelajaran yang dikenal dalam islam. Para pakar mengatakan bahwa secara etimologi, Tarbiyah terambil dari akar kata Rabb yang makna dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya. Sedangkan secara filosofis, pengambilan kata tarbiyah ini menunjukkan pada 4 aspek, pertama adalah memelihara dan mejaga fitrah anak didik menjelang dewasa (balgh), kedua mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan, ketiga mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan dan keempat melaksanakan pendidikan secara bertahap.
Syeikh Umar Muhammad Abu Umar berkata mengenai definisi tarbiyah: “Ialah aplikasi perintah-perintah Allah”.
Jika kita mengacu pada akar katanya, maka tarbiyah bukanlah sebuah jalan menuntut ilmu yang berfokus pada keilmuan saja, namun juga pada aspek penerapan ilmu yang didapat serta pembinaan berkala dari yang menyampaikan ilmu (murabbi) terhadap orang yang muntut ilmu (mutarabbi). Syeikh Al-Mujahid Abdullah azzam berkata: “Tarbiyah tidak bisa diperoleh melalui lembaran-lembaran kitab, dan tidak pula dibagi-bagikan lewat brosur-brosur. Mereka yang mengambil sesuatu dari balik kitab dan membaca dalam majalah-majalah, hanyalah mendapatkan tsaqafah bukan tarbiyah. Sungguh beda, dan jauh amat berbeda antara tsaqafah dan tarbiyah. Makanya anda dapati perbedaaan yang sangat jauh antara pemuda yang terdidik melalui lembaran-lembaran buku. Saya tidak mengatakan ‘terbina melalui lembaran-lembaran kitab’”. Tarbiyah yang diberikan pada seseorang diharapkan dapat melejitkan potensi yang ada pada dirinya, karena pada dasarnya tarbiyah bertujuan mengarahkan seseoarang menuju kehidupan yang lebih baik dari waktu ke waktu, ibarat sebuah pohon yang terus tumbuh subur dengan perawatan.
Begitu luasnya makna tarbiyah yang dikenal dalam Islam sehingga ada sebuah ungkapan menarik yang sering kali dikatakan oleh orang bahwa Tarbiyah bukanlah segala-galanya, namun segalanya berawal dari tarbiyah. Namun dewasa ini sering kali kita dapati orang yang mengartikan tarbiyah dengan Liqo. Sebagian orang beranggapan bahwa tarbiyah adalah liqo. Liqo bukanlah tarbiyah, namun didalam liqo seringkali kita dapati proses tarbiyah. Liqo hanyalah sebuah sarana tarbiyah karena didalamnya terdapat pembinaan murabbi terhadap mutarabbinya. Biasnya makna tarbiyah dan liqo ini terjadi dikarenakan kurangnya pemahaman seseoarng akan makna terbiyah itu sendiri. Jangan katakan bahwa 'duduk diruang kuliah' bukanlah tarbiyah, selama disana terdapat proses pembinaan, itupun dikatakan tarbiyah. Maka sebuah hal yang dapat menyempitkan makna tarbiyah jika tabiyah hanya diartikan pada sebuah kegiatan yang disebut dengan liqo.
Dalam tarbiyah kita juga mengenal Trbiyah Dzatiyah, yaitu sebuah tarbiyah yang diberikan oleh seorang kepada dirinya sendiri untuk membentuk kepribadian Islami yang sempurna dalam segala aspeknya, baik ruhiyah, fikriyah, maupun jasadiyah. Diantara tarbiyah dzatiyah adalah dengan menjaga diri dari segala sesuatu yang dapat menjerumuskannya dalam kehinaan dan murka Allah Jalla wa 'Azza.
Semoga kita adalah termasuk golongan orang yang selalu tertarbiyah, sehingga apa yang kita harapkan berupa kehidupan bahagia dunia dan akhirat dapat tercapai. Semoga segala kebaikan senantiasa Allah limpahkan atas diri dan keluarga kita.amin
Madiun, 15 Januari 2012 07.21 WIB
Posting Komentar