“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.[TQS.Al-Ashr : 1-3]
Berbicara mengenai waktu, pernahkah kita tahu, apakah waktu itu..?
Dalam ilmu fisika, waktu adalah sebuah dimensi yang selalu bergerak kedepan, setiap waktu yang telah berlalu, tidak dapat diulang kembali. Para ahli mengatakan, bahwa waktu dimulai dari awal terciptanya materi, yaitu sejak awal dentuman besar dari sebuah titik tunggal yang bervolume nol dengan kerapatan tak hingga. Dalam ilmu astronomi, waktu diukur dan ditandai berdasarkan siklus, khususnya siklus benda-benda langit. Misalnya, peredaran Matahari atau Bulan.
Dalam Al-Qur’an, banyak kata yang menunjukkan arti waktu, diantaranya adalah kata al-ashr yang terdapat pada Surah ke 103. Secara bahasa, kata al-‘ashr berasal dari kata‘ashara yang berarti “menekan sesuatu sehingga apa yang terdapat pada bagian terdalam dari padanya nampak ke permukaan atau keluar”. Sebagai contoh, Jeruk yang diperas dan diambil sari (air)-nya disebut al-limuna ‘ashirun, awan yang mengandung air dan siap untuk turun menjadi hujan disebutal-mu’shirat, waktu perjalanan Matahari setelah melewati pertengahan, ketika manusia selesai dari aktivitasnya memeras keringat (berusaha), disebut al-‘ashr.
Jika kita merujuk pada pengertian di atas, dapat kita peroleh bahwa apapun yang kita usahakan, hingga sampai pada batas maksimum kemampuan kita, semua itu hanya akan mendatangkan kerugian, kecuali bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Dalam Surah Al-Ashr ini diawali dengan kata wal’ashr, kata ini berbentuk qasam (sumpah) yang bermakna bahwa sepatutnya manusia memberi perhatian khusus pada ayat ini, yaitu memperhatikan waktu.
Jika kita coba jujur menengok keadaan diri kita, mungkin saja diantara kita masih ada yang belum mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik baik-baiknya (termasuk saya pribadi). Banyak waktu yang kita habiskan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Padahal jika kita melihat orang-orang shaleh, mereka sangat memaknai tiap detik waktu yang berlalu. Ibnu Mas’ud -semoga Allah meridhoinya- mengatakan : ”Aku tidak pernah menyesali sesuatu sebagaimana aku menyesali terbenamnya matahari sebagai pertanda berkurangnya ajalku,sementara amalku tidak bertambah”.
Diakhir tahun 2011 ini mari sejenak kita renungkan, tentang segala sesuatu yang pernah kita lakukan, mungkin saja dalam kurun waktu satu tahun ini telah banyak hati yang kita sakiti, telah banyak janji yang kita ingkari, telah banyak hutang yang belum terbayar, telah banyak amanah yang kita abaikan dan telah banyak kewajiban yang kita tinggalkan. Karena jika semua itu pernah kita lakukan, sedang tidak ada waktu lagi bagi kita untuk memperbaiki, maka alangkah ruginya diri kita. Semoga masih selalu ada waktu untuk kita memperbaiki tiap kesalahan yang pernah kita lakukan, dan semoga Allah Jalla wa ‘Azza senantiasa mengampuni tiap dosa yang pernah kita lakukan dan menerima tiap amal shaleh yang kita lakukan. Semoga kita mampu untuk saling mengingatkan dan mendoakan dalam kebaikan agar kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik di tahun 2012. Melaui tulisan singkat ini pula, saya mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan saya selama ini dan saya berterimakasih atas segala kebaikan yang pernah diberikan kepada saya, semoga Allah Jalla wa 'Azza membalas dengan yang lebih baik.
Sebagai penutup tulisan ini, ada sebuah syair yang diambil dari lagu Detik Hidup, Iwan Abdulrachman yang sangat sarat akan makna. Semoga dapat membantu menyadarkan kita tentang berharganya waktu..
Detik detik berlalu dalam hidup ini,
Perlahan tapi pasti menuju mati.
Kerap datang rasa takut menyusup di hati,
Takut hidup ini terisi oleh sia-sia
Pada hening dan sepi, aku bertanya,
Dengan apa kuisi detikku ini.
Kerap datang rasa takut menyusup di hati,
Takut hidup ini terisi oleh sia-sia.
Tuhan kemana kami setelah ini,
Adakah Engkau dengar,
doaku ini...
Amin…Ya Robal Alamin
PPNI Kobong 7 Sunan Kalijaga
27 Desember 2011, 23:05 WIB
Berbicara mengenai waktu, pernahkah kita tahu, apakah waktu itu..?
Dalam ilmu fisika, waktu adalah sebuah dimensi yang selalu bergerak kedepan, setiap waktu yang telah berlalu, tidak dapat diulang kembali. Para ahli mengatakan, bahwa waktu dimulai dari awal terciptanya materi, yaitu sejak awal dentuman besar dari sebuah titik tunggal yang bervolume nol dengan kerapatan tak hingga. Dalam ilmu astronomi, waktu diukur dan ditandai berdasarkan siklus, khususnya siklus benda-benda langit. Misalnya, peredaran Matahari atau Bulan.
Dalam Al-Qur’an, banyak kata yang menunjukkan arti waktu, diantaranya adalah kata al-ashr yang terdapat pada Surah ke 103. Secara bahasa, kata al-‘ashr berasal dari kata‘ashara yang berarti “menekan sesuatu sehingga apa yang terdapat pada bagian terdalam dari padanya nampak ke permukaan atau keluar”. Sebagai contoh, Jeruk yang diperas dan diambil sari (air)-nya disebut al-limuna ‘ashirun, awan yang mengandung air dan siap untuk turun menjadi hujan disebutal-mu’shirat, waktu perjalanan Matahari setelah melewati pertengahan, ketika manusia selesai dari aktivitasnya memeras keringat (berusaha), disebut al-‘ashr.
Jika kita merujuk pada pengertian di atas, dapat kita peroleh bahwa apapun yang kita usahakan, hingga sampai pada batas maksimum kemampuan kita, semua itu hanya akan mendatangkan kerugian, kecuali bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Dalam Surah Al-Ashr ini diawali dengan kata wal’ashr, kata ini berbentuk qasam (sumpah) yang bermakna bahwa sepatutnya manusia memberi perhatian khusus pada ayat ini, yaitu memperhatikan waktu.
Jika kita coba jujur menengok keadaan diri kita, mungkin saja diantara kita masih ada yang belum mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik baik-baiknya (termasuk saya pribadi). Banyak waktu yang kita habiskan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Padahal jika kita melihat orang-orang shaleh, mereka sangat memaknai tiap detik waktu yang berlalu. Ibnu Mas’ud -semoga Allah meridhoinya- mengatakan : ”Aku tidak pernah menyesali sesuatu sebagaimana aku menyesali terbenamnya matahari sebagai pertanda berkurangnya ajalku,sementara amalku tidak bertambah”.
Diakhir tahun 2011 ini mari sejenak kita renungkan, tentang segala sesuatu yang pernah kita lakukan, mungkin saja dalam kurun waktu satu tahun ini telah banyak hati yang kita sakiti, telah banyak janji yang kita ingkari, telah banyak hutang yang belum terbayar, telah banyak amanah yang kita abaikan dan telah banyak kewajiban yang kita tinggalkan. Karena jika semua itu pernah kita lakukan, sedang tidak ada waktu lagi bagi kita untuk memperbaiki, maka alangkah ruginya diri kita. Semoga masih selalu ada waktu untuk kita memperbaiki tiap kesalahan yang pernah kita lakukan, dan semoga Allah Jalla wa ‘Azza senantiasa mengampuni tiap dosa yang pernah kita lakukan dan menerima tiap amal shaleh yang kita lakukan. Semoga kita mampu untuk saling mengingatkan dan mendoakan dalam kebaikan agar kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik di tahun 2012. Melaui tulisan singkat ini pula, saya mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan saya selama ini dan saya berterimakasih atas segala kebaikan yang pernah diberikan kepada saya, semoga Allah Jalla wa 'Azza membalas dengan yang lebih baik.
Sebagai penutup tulisan ini, ada sebuah syair yang diambil dari lagu Detik Hidup, Iwan Abdulrachman yang sangat sarat akan makna. Semoga dapat membantu menyadarkan kita tentang berharganya waktu..
Detik detik berlalu dalam hidup ini,
Perlahan tapi pasti menuju mati.
Kerap datang rasa takut menyusup di hati,
Takut hidup ini terisi oleh sia-sia
Pada hening dan sepi, aku bertanya,
Dengan apa kuisi detikku ini.
Kerap datang rasa takut menyusup di hati,
Takut hidup ini terisi oleh sia-sia.
Tuhan kemana kami setelah ini,
Adakah Engkau dengar,
doaku ini...
Amin…Ya Robal Alamin
PPNI Kobong 7 Sunan Kalijaga
27 Desember 2011, 23:05 WIB

Posting Komentar