Di manakah Allah..?


'Di mana' adalah kata yang sudah tidak lagi asing bagi kita. setip hari kita menggunakan kata ini. namun pernahkan kita memahami makna dari kata 'Di mana..?'
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, dijelaskan bahwa kata 'Di mana' adalah kata tanya yang digunakan untuk menanyakan tempat. Dengan demikian, kata 'Dimana' membutuhkan jawaban yang konkrit tentang sesuatu yang dipertanyakan, yaitu sebuah tempat. 'Tempat' diartikan sebagai sesuatu yang dipakai untuk menaruh (menyimpan, meletakkan,dsb); wadah; ruang. Misalnya saya menanyakan 'Dimanakah letak negara Indonesia?' maka saya bisa menjawab'Secara geografis Indonesia berada di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik', atau saya juga bisa menjawab 'Secara astronomis Indonesia Terletak di antara 6LU – 11LS dan 95BT – 141BT'.

Lalu bagaimakah jika yang dipertanyakan adalah 'Dimanakah Allah berada'?
Jika kita mengambil kaidah sebelumnya, bahwa setiap pertanyaan 'di mana' membutuhkan jawaban yang merujuk pada sebuah tempat, maka pertanyaan 'Allah ada dimana' juga harus dijawab dengan sesuatu yang merujuk pada sebuah tempat. Namun masalah yang timbul ketika menjawab pertanyaan tersebut adalah tentang eksistensi Allah sebaga Rabb yang memiliki sifat Mukhalalfatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhlukNya), karena jika kita menjawab 'Allah ada di atas arsy' atau 'Allah ada di mana-mana' berarti Allah butuh tempat (definisi tempat telah dijelaskan seebelumnya) dan hal ini bermakna Allah sama dengan makhluk, karena makhluk membutuhkan tempat, dan mustahil Allah sama dengan makhluk.
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat".[QS. As-Syura:11]

Pandangan Ulama Ahlus Sunnah tentang Keberadaan Allah
Ulama Ahlus Sunnah sepakat, bahwa Allah ada tanpa membutuhkan tempat dan arah. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al Jawhar al Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jisim). Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam :
1. Benda Lathif: sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.
2. Benda Katsif: sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.
Adapun sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta'ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al Jawhar al Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya.
Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata:
"Allah ta'ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala sesuatu".

Al Imam Fakhruddin ibn 'Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan :
"Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan "Kapan ada-Nya?", "Di mana Dia ?" atau "Bagaimana Dia ?", Dia ada tanpa tempat".

Tidak Boleh dikatakan Allah ada di atas 'Arsy atau ada di mana-mana
Sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya- mengatakan :
"Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat" (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).
Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya'rani (W. 973 H) dalam kitabnya al Yawaqiit Wa al Jawaahir menukil perkataan Syekh Ali al Khawwash: "Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana".

Bagaimanakah dengan ayat-ayat Istiwa dalam Al-Qur'an..?
Di antara ayat-ayat Istiwa adalah firman Allah ta'ala Surat Thaha: 5:
"Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy".
Ulama berpendapat, bahwa ayat ini tidak boleh ditafsirkan dengan mengatakan bawa Allah duduk (jalasa) atau bersemayam atau berada di atas 'Arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita, karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda sebagaimana yang dikatakan oleh al Hafizh al Bayhaqi (W. 458 H), al Imam al Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki (W. 756 H) dan al Hafizh Ibnu Hajar (W. 852 H) dan lainnya. Kemudian kata istawa sendiri dalam bahasa Arab memiliki 15 makna. Karena itu kata istawa tersebut harus ditafsirkan dengan makna yang layak bagi Allah dan selaras dengan ayat-ayat Muhkamat. Berdasarkan ini, maka tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa lainnya karena kata iistawa mempunyai 15 makna dan tidak mempunyai padan kata (sinonim) yang mewakili 15 makna tersebut. Yang diperbolehkan adalah menerjemahkan maknanya, makna kata istawa dalam ayat tersebut adalah qahara (menundukkan atau menguasai). Hal ini selaras denganperkataan Al Imam Ali –semoga Allah meridlainya-:"Sesungguhnya Allah menciptakan 'Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya".

Inkonsistensi Orang yang Memahami Ayat Istiwa' secara Zhahirnya
Dan orang yang mengambil ayat mutasyabihat ini secara zhahirnya, apakah yang akan ia katakan tentang ayat 115 surat al Baqarah:
"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah".
Jika ayat ini dipahami secara Zahirnya, maka akan bermakna bahwa Allah ada dimana-mana, dan hal ini sangat bertentangan dengan QS. Thaha : 5 yang mengatakan bahwa Allah ada di atas 'Arsy.

Yang mensifati Allah dengan sifat makhluk, maka ia telah kafir
Imam At-Thahawiy As-Salafiy -semoga Allah meridlainya- mengatakan :
“Barangsiapa mengsifatkan Allah sengan satu makna atau sifat makhluk daripada sifat-sifat makhluk, maka telah jatuh kafir ia”. Rujuk Muhaddits Syeikh Abdullah Al-Harary, Idzhar As-Sunniyyah.

Al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah meridlainya– berkata:
"Barang siapa yang berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), kafir. Dan jika dia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu'aththil -atheis- (orang yang meniadakan Allah). Dan jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim".
(Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dan lainnya).

Dari beberapa uraian diatas, maka kita dapat simpulkan bahwa pertanyaan 'Allah ada dimana' adalah suatu pertanyaan yang salah, pertanyaan yang tidak perlu dijawab, karena kata 'di mana' adalah sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban tempat, sedang Allah SWT tidak membutuhkan tempat.
Sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya- mengatakan:”Tidak boleh dikatakan (disoalkan tentang) di mana (tempat) bagi Allah yang telah menempatkan di mana (tempat). (Disebutkan oleh Abu`l-Qasim al-Qushayri dalam al-Risalah al-Qushayriyyah).

Al Imam ar-Rifa'i -semoga Allah meridlainya- mengatakan: "Batas akhir pengetahuan seorang hamba tentang Allah adalah meyakini bahwa Allah ta'ala ada tanpa bagaimana (sifat-sifat makhluk) dan ada tanpa tempat". (Disebutkan oleh al Imam ar-Rifa'i dalam kitabnya Hal Ahl al Haqiqah ma'a Allah)
Wallahu'alam..
Bagikan Artikel ini :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Memeberi Meski Tak Berarti - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger